Keuntungan dari Asuransi Syariah

Keuntungan dari Asuransi Syariah

Di dalam praktik asuransi syariah, pembagian keuntungan dirasakan lebih adil karena tidak akan ada pihak yang menerima untung dengan jumlah yang lebih besar dibanding pihak lainnya. Mengapa demikian? Jika di dalam asuransi konvensional menerapkan kontrak jual beli atau biasa disebut tabaduli, asuransi syariah menggunakan kontrak takafuli atau tolong menolong antara nasabah satu dengan nasabah yang lain ketika dalam kesulitan. Jadi di asuransi syariah ada risk sharing.

Jika pada asuransi konvensional yang menggunakan akad tabaduli, terjadi jual beli atas risiko yang dipertanggungkan antara nasabah dengan perusahaan asuransi. Dengan kata lain terjadi transfer risiko (risk transferring) dari nasabah ke perusahaan asuransi.

Pada posisi ini perusahaan asuransi menjadi terbebani sehingga berusaha mencari cara agar semua risiko bisa ditanggung dengan memasukkan unsur risiko ke dalam paket asuransi. Sedangkan pada asuransi syariah risiko jadi tanggung jawab bersama dengan prinsip saling menolong sehingga lebih adil.

1. Syariah Memiliki Konsep Tolong Menolong

Prinsip tolong menolong dalam asuransi syariah menggunakan konsep donasi, sehingga saat Anda membeli asuransi berbasis syariah, sama artinya dengan Anda mendonasikan sebagian dana untuk membantu nasabah lain yang sedang terkena musibah. Dengan konsep seperti ini tidak ada dana yang hilang selama kita berinvestasi. Pada periode tertentu, semua keuntungan yang diperoleh, akan dibagi secara rata kepada kedua belah pihak sehingga sama-sama merasa nyaman dana aman.

2. Memakai Konsep Risk Transfer, Bukan Risk Sharing, Ini Lebih Adil dan Menguntungkan

Asuransi umum syariah memakai konsep risk sharing, sedangkan di konvensional menggunakan risk transfer sehingga perusahaan asuransi sebagai operator asuransi itu tidak akan mengalami kerugian, karena risiko bukan berada di perusahaan. Manfaat bagi nasabah adalah ada kumpulan dana tabarru-nya (seperti premi kalau di asuransi konvesnional) yang menguntungkan, yang bisa diambil manfaatnya, bila dibandingkan dengan di asuransi umum konvensional. Hal ini yang membuat asuransi umum syariah terasa lebih adil.

3. Tidak Mengenal Istilah Dana Hangus karena Konsepnya adalah Titipan (Wadiah)

Dalam asuransi konvensional kita mengenal istilah uang hangus jika tidak membayar premi sesuai dengan syarat minimal waktu yang di sepakati di awal. Hal ini tidak terjadi pada asuransi syariah karena nasabah asuransi syariah bisa mendapatkan uangnya kembali meskipun belum datang jatuh tempo.

Asuransi syariah menggunakan konsep wadiah (titipan), dimana dana akan dikembalikan dari rekening peserta yang telah dipisahkan dari rekening tabarru’. Pembebanan biaya operasional sendiri ditanggung pemegang polis asuransi, dan inipun terbatas hanya pada kisaran 30% dari premi, yang membuat pembentukan nilai tunai cepat terbentuk di tahun pertama dengan memiliki nilai 70% dari premi. Pada asuransi konvensional sendiri, biaya ini sepenuhnya ditanggung pemegang polis.

Hal ini juga memberikan potensi keuntungan lain yang memungkinkan peserta asuransi umum syariah menerima kembali sebagian premi jika ternyata hingga saat jatuh tempo belum ada klaim.

4. Lebih Transparan, Mengapa Demikian?

Pengelolaan dana di asuransi umum syariah menggunakan konsep pembagian yang jelas di awal, misalnya saja porsi untuk pengelola berapa, sedangkan porsi untuk risiko dibagi pemegang polis berapa. Contohnya, presentase untuk tabarru 70 %, sedangkan ujroh 30 %. Hal ini yang membedakan dengan di konvensional, dimana 100% perusahaan yang memiliki, dengan alokasi kebijakan sesuai perusahaan masing-masing, walaupun tujuannya sama agar masyarakat terjamin dan terlindungi.

5. Tidak Ada Riba atau Larangan Lainnya

Dalam transaksi keuangan syariah, ada beberapa larangan yang tidak boleh dilakukan seperti riba, gharar (ketidakjelasan dana) dan maisir (judi). Jika Anda mengambil produk perusahaan asuransi syariah maka dana akan dikelola dengan proses yang sesuai dengan persetujuan dari awal yang terhindari dari transaksi terlarang di atas.

Untuk alokasi investasi, misalnya saja akad yang digunakan adalah mudharabah, yaitu akad kerja sama dimana peserta menyediakan 100% modal, dan dikelola oleh perusahaan asuransi, dengan menentukan kontrak bagi hasil.

Bagaimana jika terjadi klaim, dananya diambilkan darimana? Jika nasabah asuransi syariah mengajukan klaim, dana klaim berasal dari rekening tabarru’ (kebajikan) seluruh peserta. Berbeda dengan klaim asuransi konvensional yang berasal dari perusahaan asuransinya.

6. Diawasi Dewan Pengawas Syariah untuk Menjamin Transaksi sesuai Prinsip Syariah

Semua industri keuangan syariah, termasuk asuransi akan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS). Bahkan setiap produk yang dikeluarkanpun juga harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari DPS ini untuk memberikan jaminan keyakinan bagi Anda dan nasabah lainnya dalam memilih asuransi. Jadi masyarakat tidak perlu lagi berdebat mengenai halal-haram produk syariah karena sudah di awasi oleh ahlinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IBX5B3EE8CA50191